Jakarta – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengecam keras insiden pengeroyokan seorang guru oleh siswanya di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (13/1/2026) ini menyoroti pentingnya kewibawaan sekolah dan penguatan pendidikan karakter.
Kecaman dan Seruan Perlindungan Guru
Hetifah menyatakan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan di lingkungan pendidikan. “Kami mengecam keras setiap bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk peristiwa di SMK tersebut. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan di lingkungan pendidikan,” ujar Hetifah kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).
Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam investigasi dan klarifikasi fakta secara utuh. Penanganan kasus ini harus dilakukan secara adil dan proporsional, dengan tetap menjamin perlindungan bagi guru dan pembinaan bagi peserta didik. “Dengan tetap menjamin perlindungan bagi guru, pembinaan bagi peserta didik, serta penguatan pendidikan karakter dan kewibawaan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang,” tutur Hetifah.
Lemahnya Pendidikan Karakter Menjadi Sorotan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, turut prihatin dan melihat peristiwa ini sebagai cerminan masalah yang lebih mendasar. “Kami memandang peristiwa ini sebagai cerminan persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan kita, terutama melemahnya pendidikan karakter dan nilai penghormatan terhadap guru,” jelas Hadrian.
Hadrian menekankan pentingnya peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam membentuk sikap dan perilaku peserta didik. “Karena itu, kami tetap dan tidak akan lelah mendorong penguatan pendidikan karakter, perlindungan hukum bagi guru, serta penciptaan iklim sekolah yang aman, berdisiplin, dan bermartabat,” sambung Hadrian.
Kronologi Kejadian Versi Guru
Insiden pengeroyokan ini terjadi di lingkungan sekolah saat jam kegiatan belajar mengajar berlangsung. Video kejadian yang menunjukkan seorang guru, Agus Saputra, dikeroyok oleh sejumlah siswanya sempat viral di media sosial. Dalam video lain, terlihat sang guru sempat membubarkan siswanya dengan mengacungkan celurit.
Agus menjelaskan bahwa kejadian bermula ketika ia mendengar salah satu siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas saat ia berjalan di depan kelas. Merespons hal tersebut, Agus masuk ke dalam kelas dan meminta siswa yang bersangkutan untuk mengaku. “Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ujarnya.
Menurut Agus, tindakannya menampar siswa tersebut merupakan bentuk pendidikan moral. Namun, siswa tersebut bereaksi marah, yang kemudian berujung pada pengeroyokan. Kejadian ini sempat dimediasi oleh guru-guru lainnya.
Konteks Perkataan yang Dipermasalahkan
Di sisi lain, sejumlah siswa mengaku bahwa Agus telah menghina salah satu murid dengan perkataan ‘miskin’, yang memicu keributan. Namun, Agus membantah maksud penghinaan tersebut. Ia menyatakan bahwa perkataan itu disampaikan dalam konteks motivasi.
“Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu secara motivasi pembicaraan,” ungkapnya.






