Jakarta – Peristiwa tragis menggemparkan kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat (2/1/2025) pagi. Seorang ibu dan dua anaknya ditemukan tewas di dalam rumah mereka. Penemuan jasad ini diungkap oleh anak kedua korban yang pulang bekerja dan mendapati pemandangan mengerikan.
Saksi mata, Aryuni Wulan Febri (51), seorang tetangga korban, menceritakan detik-detik penemuan tersebut. Ia mendengar teriakan histeris dari anak kedua korban, Khadafi, saat pulang kerja.
Teriakan Histeris dan Permintaan Tolong
“Iya, teriak histeris, teriak-teriak gitu, makanya saya pikir kan berantem,” ujar Wulan saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/1/2025). Khadafi, yang baru saja pulang, segera berteriak memanggil ibunya.
“‘Ibu, ibu’ gitu, pokoknya teriak-teriak gitu. Terus pas saya keluar gini, saya tanya, ‘Kenapa?’, saya gitu tanya kan, ‘Ibu saya keracunan tolong, ibu tolong, tolong’ gitu,” tutur Wulan menirukan ucapan Khadafi.
Wulan kemudian masuk ke dalam rumah dan mendapati ketiga korban sudah dalam posisi tergeletak. “Begitu saya lihat udah posisi tergeletak semua kan ya, jadi kan saya takut,” ungkapnya.
Identitas Korban dan Kondisi Anggota Keluarga Lain
Ketiga korban yang meninggal dunia adalah Siti Solihah (50), ibu rumah tangga; anak pertamanya, Afiah Al Adilah Jamaludin (28); dan anak keempatnya, Adnan Al Abrar Jamaludin (14). Sementara itu, anak ketiga Siti, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), ditemukan selamat dan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Keterangan Saksi dan Keseharian Korban
Wulan mengaku tidak terlalu akrab dengan para korban. Ia hanya sesekali berinteraksi saat bertemu. Diketahui, Afiah dan Syauqi sehari-hari berjualan minuman es.
“(Korban ibu) di dalam, kebanyakan di dalam. Kalau keluar tuh kalau lagi perlu apa gitu, misalnya lagi mau kontrol, check up, itu keluar diboncengin anaknya, perempuan itu suka ketemu, ‘Ke mana bu? kontrol’, gitu aja. Sekadar, pokoknya pas ngobrolnya pas begitu bertatap muka aja,” jelas Wulan.
Wulan mengaku sangat terkejut dengan peristiwa ini. Ia tidak pernah mendengar suara keributan dari rumah korban sebelumnya.
“Kaget banget. Begitu lihat itu sampai saya nggak doyan makan. Kebayang gitu kok bisa gitu. Sampai biasanya suka berpapasan gitu kan, nggak nyangka. Nggak nyangka. Suka, ibu ke mana apa gitu. Begitu lihat kondisi begitu udah kaget banget saya. Kaget banget kok bisa gitu, kenapa, selama ini saya nggak pernah denger ribut-ribut juga gitu,” katanya dengan nada prihatin.
Proses Autopsi dan Hasil Toksikologi
Jenazah ketiga korban telah dimakamkan pada Sabtu (3/1) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rorotan, Jakarta Utara. Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Kramat Jati, Brigjen dr Prima Heru, mengonfirmasi bahwa proses autopsi telah selesai dilakukan.
“Jenazah sudah diautopsi dan sudah diserahkan keluarganya,” ujar Brigjen dr Prima Heru saat dikonfirmasi, Sabtu (3/1).
Pihak RS Polri masih menunggu hasil tes toksikologi untuk memastikan penyebab pasti kematian ketiga korban. “Untuk hasil (penyebab indikasi racun) nunggu hasil toksikologi,” terang Prima.






