Berita

Tumpukan Sampah Baru Muncul di Tangsel Meski Dibawa ke Cileungsi, Warga Protes ke Serang

Advertisement

TANGERANG SELATAN – Masalah sampah di Tangerang Selatan (Tangsel) belum juga terselesaikan. Kendati telah dialihkan pembuangannya ke Cileungsi, Kabupaten Bogor, tumpukan sampah baru kembali muncul di sejumlah titik. Pemerintah Kota Tangsel sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah sejak 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, berdasarkan Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menyatakan bahwa sampah yang masih menggunung diangkut secara bertahap dan mengimbau warga untuk tidak membuang sampah sembarangan di titik-titik penumpukan.

Menyadari kondisi yang belum teratasi, Pemkot Tangsel memperpanjang status darurat hingga 19 Januari 2026. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel, Essa Nugraha, menjelaskan bahwa masa perpanjangan ini difokuskan pada optimalisasi pembersihan, pengangkutan sampah, serta penegakan perilaku buang sampah yang benar. “Pada masa perpanjangan difokuskan pada optimalisasi pembersihan dan pengangkutan sampah serta optimalisasi penegakan perilaku buang sampah,” kata Essa, mengutip Antara, Kamis (8/1).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangsel, Tb Asep Nurdin, menambahkan bahwa perpanjangan status darurat didasari hasil evaluasi tahap pertama yang masih menemukan tumpukan sampah. “Perpanjangan ini untuk memastikan pelayanan kebersihan tetap maksimal dan kondisi kota kembali normal sepenuhnya,” ujarnya.

Sampah Tangsel Ditolak Warga Serang

Sebelumnya, Pemkot Tangsel menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Serang untuk mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Taktakan, Kota Serang. Namun, langkah ini menuai protes dari warga Taktakan. Mereka mengeluhkan air lindi dari truk pengangkut sampah yang mencemari jalanan dan menimbulkan bau tidak sedap.

Warga Taktakan bahkan menggelar demonstrasi di Kantor Kecamatan Taktakan, membentangkan spanduk penolakan. Salah satu perwakilan warga, Yuda, mempertanyakan klaim persetujuan warga sekitar TPAS Cilowong. “Mohon ditunjukkan tanda tangan masyarakat yang setuju, biar kami tahu siapa saja yang setuju. Berarti ini bukan mengatasnamakan masyarakat Taktakan. Masyarakat Taktakan untuk sementara ini menolak. Saya sendiri merasakan baunya,” tegas Yuda.

Menanggapi protes tersebut, Pemerintah Kota Serang menghentikan sementara penerimaan sampah dari Tangsel untuk dilakukan evaluasi. Sekda Kota Serang, Nanang Saefudin, menyatakan bahwa penghentian ini dilakukan setelah uji coba beberapa hari. “Ini kan baru uji coba beberapa hari. Kita hentikan dulu untuk dilakukan evaluasi. Saya pikir wajar masyarakat menyampaikan aspirasinya, baik dengan keras maupun lembut. Poinnya, kita akan melakukan perbaikan-perbaikan,” ujar Nanang.

Advertisement

Pemkot Tangsel Alihkan Sampah ke Cileungsi

Menyikapi penolakan dari Serang dan tumpukan sampah yang masih ada, Pemkot Tangsel segera mengalihkan pembuangan sampah ke wilayah lain, yaitu Cileungsi, Kabupaten Bogor. “Sebanyak 200 ton sampah per hari akan dikirim ke Cileungsi selama 14 hari ke depan,” ujar Benyamin Davnie di Tangerang, dikutip Antara, Kamis (8/1).

Benyamin menjelaskan pengalihan ini bertujuan agar tidak ada lagi penumpukan sampah di dekat permukiman maupun ruang publik di Tangsel, terutama karena pembuangan ke TPAS Cilowong dihentikan sementara. “Ke Cileungsi ini diambil untuk memastikan tidak ada tumpukan sampah di titik-titik pemukiman maupun ruang publik di Tangsel,” ucapnya.

Muncul Tumpukan Sampah Baru di Pasar Cimanggis

Meskipun sampah di sekitar Pasar Cimanggis, Tangerang Selatan, Banten, telah diangkut dan petugas Satpol PP berjaga di lokasi, tumpukan sampah baru kembali terlihat. Pantauan di lokasi pada Jumat (9/1) menunjukkan bahwa lokasi bekas tumpukan sampah telah dipasangi tali pembatas dan dijaga petugas.

Namun, bau sampah masih tercium di sekitar area tersebut. Seorang warga bernama Tara (38) mengungkapkan bahwa tumpukan sampah baru tersebut mulai terlihat pada pagi hari. “Nah kalau itu baru. Kalau yang di sana (samping pasar) udah diangkut,” kata Tara, menduga tumpukan baru muncul karena warga dilarang membuang sampah di lokasi yang sebelumnya telah dibersihkan.

Advertisement