Pembangunan kembali Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah di Jakarta Pusat menuai beragam harapan dari masyarakat. Rencana ini disambut baik oleh warga yang selama ini mengandalkan pelican crossing untuk menyeberang di kawasan yang dikenal padat aktivitas.
Harapan Warga untuk JPO Sarinah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan bahwa pelican crossing yang ada saat ini tidak akan ditutup setelah JPO Sarinah selesai dibangun. “Memang saya juga sudah membaca pro-kontranya masyarakat yang apa kelompok pejalan kaki kan menginginkan lewat tetap jalan kaki di bawah. Jalan kaki di bawah kan tetap dibuka, kemudian di atas sebagai alternatif pilihan,” ujar Pramono.
Keputusan untuk membangun kembali JPO Sarinah, yang sempat dibongkar pada era Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, telah diambil sejak lama. JPO Sarinah memiliki catatan sejarah sebagai JPO pertama di Indonesia yang dibangun pada masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
JPO Sebagai Ikon Kota
Ahmad Fauzi (35), seorang pekerja di sekitar Sarinah, menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan ulang JPO. Ia menilai kawasan Sarinah, yang merupakan pusat perkantoran sekaligus destinasi wisata, membutuhkan fasilitas penyeberangan yang memadai. “Saya sih mendukung. Di sini kan istilahnya kawasan wisata iya, perkantoran juga, jadi banyak pejalan kaki,” kata Ahmad.
Menurutnya, JPO yang didesain secara modern dapat menambah nilai kawasan tersebut. “Apalagi JPO bisa jadi ikon kota juga kalau desainnya bagus, misalnya kayak di kawasan HI atau Sudirman,” tambahnya.
Keamanan dan Kenyamanan Menyeberang
Amir (57), pekerja lainnya, mengungkapkan rasa waswas saat menyeberang jalan di tengah kepadatan lalu lintas Sarinah. Ia berharap JPO dapat memberikan rasa aman dan tenang bagi pejalan kaki. “Di sini lalu lintasnya padat, kendaraan cepat-cepat semua. Kalau ada JPO, pejalan kaki jadi lebih aman dan lebih tenang nyeberang,” ucap Amir.
Fasilitas Pendukung dan Pengawasan
Amir juga menekankan pentingnya fasilitas penunjang yang memadai, seperti lift atau eskalator, agar JPO ramah disabilitas. “Kalau memang dibuat ramah disabilitas, ya bagus sekali. Harus ada lift atau eskalator, jadi semua orang bisa pakai,” ujarnya.
Namun, Amir mengingatkan agar pemerintah memperhatikan aspek perawatan dan pengawasan pasca-pembangunan. Ia berharap JPO tidak terbengkalai atau disalahgunakan. “Jangan sampai nanti liftnya mati atau malah jadi tempat orang buka lapak dan tunawisma. Harus dijaga, apalagi ini kan pusat kota,” tegasnya.
Adita (30), warga lainnya, sependapat mengenai konsep ‘ramah disabilitas’ dan berharap fasilitas lift benar-benar berfungsi berkelanjutan. “Kalau untuk disabilitas, saya setuju, tapi semoga fasilitasnya benar-benar berfungsi. Jangan sampai lift rusak tapi lama diperbaikinya,” kata Adita.
Ia juga berharap pengelolaan JPO dilakukan secara profesional agar tetap aman dan tidak terkesan kumuh.
Nilai Historis JPO Sarinah
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, menegaskan bahwa JPO Sarinah memiliki nilai historis sebagai JPO pertama di Indonesia. Revitalisasi JPO ini dianggap sebagai upaya menghidupkan kembali ikon lama Jakarta yang sarat sejarah.
“Seperti yang sebelumnya disampaikan Bapak Gubernur Pramono Anung, revitalisasi JPO Sarinah merupakan langkah nyata Pemprov DKI dalam menghadirkan pilihan aksesibilitas yang inklusif. JPO Sarinah ini adalah JPO pertama di Indonesia,” kata Welfizon dalam keterangan resminya, Sabtu (10/1/2026).
Fokus utama revitalisasi adalah memastikan kelompok disabilitas, lansia, dan ibu hamil mendapatkan akses penyeberangan yang aman dan nyaman. JPO Sarinah akan dilengkapi dengan lift.
Welfizon juga mengklarifikasi bahwa pembangunan JPO Sarinah tidak akan menghilangkan fasilitas pelican crossing yang sudah ada. “Pembangunan ini tidak menghilangkan fasilitas yang ada. Pelican crossing tetap berfungsi seperti biasa. JPO Sarinah akan menjadi opsi tambahan yang terintegrasi dengan moda transportasi publik,” ujarnya.
Transjakarta berharap JPO Sarinah yang direvitalisasi dapat kembali menjadi bagian dari identitas kota Jakarta dan mendukung mobilitas pejalan kaki yang lebih aman serta inklusif di pusat ibu kota.






