Rabat – Federasi Sepakbola Senegal (FSF) melayangkan komplain resmi kepada Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) terkait dugaan perlakuan tidak adil yang diterima timnas mereka menjelang final Piala Afrika 2025 melawan tuan rumah Maroko. FSF menyoroti isu keamanan, akomodasi, fasilitas latihan, hingga alokasi tiket yang dinilai tidak sesuai asas fair play.
Komplain tersebut dirilis FSF pada Sabtu (17/1/2026), sehari sebelum laga puncak yang dijadwalkan bergulir Minggu waktu Rabat atau Senin (19/1) dini hari WIB. Timnas Senegal, yang dijuluki Singa Teranga, berangkat dari Tangier menuju Rabat menggunakan kereta pada Jumat sore waktu lokal. Namun, mereka merasa tidak mendapatkan penjagaan yang memadai saat tiba di tujuan.
“Kekurangan ini membuat para pemain dan staf teknis terpapar kepadatan dan risiko yang tidak sesuai dengan standar kompetisi sebesar ini dan prestise final kontinental,” demikian bunyi pernyataan resmi FSF. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan tim.
FSF juga mengeluhkan akomodasi hotel yang baru memadai setelah mereka mengajukan komplain tertulis setibanya di Rabat. Detail mengenai kondisi akomodasi awal tidak dijelaskan lebih lanjut.
Keluhan berikutnya menyasar fasilitas latihan. FSF menolak untuk berlatih di Mohammed VI Complex, yang ternyata merupakan markas Timnas Maroko selama turnamen berlangsung. Keputusan ini diambil karena Achraf Hakimi dan kawan-kawan dijadwalkan masih menggunakan fasilitas tersebut sehari sebelum final. FSF mengaku belum mendapatkan informasi mengenai lokasi latihan alternatif hingga pernyataan itu dirilis, yang menimbulkan “pertanyaan tentang keadilan olahraga”. Senegal diduga khawatir akan dimata-matai jika berlatih di tempat yang sama dengan tim tuan rumah.
Alokasi tiket untuk suporter Senegal juga menjadi sorotan. FSF hanya mampu menyediakan 2.850 tiket bagi para penggemar, sesuai jatah maksimum dari CAF. Padahal, Prince Moulay Abdellah Stadium yang menjadi venue final memiliki kapasitas 69.500 kursi. FSF menilai jatah tersebut “tidak mencukupi mengingat banyaknya permintaan” dan “menyesalkan pembatasan yang diberlakukan (oleh CAF), yang merugikan publik Senegal.”
FSF menyerukan CAF dan panitia lokal untuk “segera mengambil setiap tindakan korektif untuk menjamin penghormatan terhadap prinsip-prinsip fair play, perlakuan setara, dan keamanan yang krusial untuk kesuksesan perayaan sepak bola Afrika.” Pernyataan terbuka ini ditegaskan FSF bertujuan “demi transparansi dan untuk membela kepentingan Timnas Senegal.”
Maroko sendiri diprediksi akan mendapat dukungan penuh dari publik tuan rumah, sebagaimana yang terjadi di laga-laga sebelumnya. Hal ini kontras dengan Senegal yang terakhir kali menjuarai Piala Afrika pada tahun 2021, sementara Maroko belum pernah meraih gelar tersebut dalam 50 tahun terakhir.






