Jakarta – Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dirancang sebagai strategi jangka panjang untuk memberantas kemiskinan melalui pendidikan berkualitas dan berkeadilan. Program ini secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di seluruh Indonesia.
Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Prof. Muhammad Nuh, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah gratis, melainkan sebuah pendekatan baru dalam membangun manusia secara utuh, terutama dari sisi pendidikan karakter.
Pendidikan Karakter sebagai Pilar Utama
“Sekolah Rakyat ini berbeda. Syaratnya hanya satu, miskin. Tidak ada tes akademik. Maka input-nya sangat beragam dan tidak bisa dikelola dengan pendekatan sekolah biasa,” ujar Prof. Muhammad Nuh, dikutip dari 20detik dalam program detikSore bertema ‘Kurikulum, Akreditasi, dan Integrasi Sekolah Rakyat Terhadap Sistem Pendidikan Nasional’, Kamis (8/1/2025).
Sekolah Rakyat tersedia berjenjang mulai dari SD, SMP hingga SMA, menggunakan kurikulum nasional yang diperkaya dengan pendidikan karakter, penguatan talenta, serta pembinaan fisik dan psikososial. Seluruh biaya pendidikan, termasuk kebutuhan personal siswa, ditanggung negara.
Menurut Prof. Nuh, banyak anak miskin yang sebenarnya pintar dan sukses, minimal lulus SMA. Namun persoalan yang dihadapi Sekolah Rakyat berbeda.
“Ini bukan miskin tapi pintarnya tidak jelas, nakalnya pun tidak jelas. Karena itu perlu pendekatan multi aspek,” tambahnya. Pendekatan tersebut tidak hanya akademik, tetapi juga fisik, psikologis, dan talenta.
Pemetaan Holistik untuk Perkembangan Siswa
Anak-anak dipetakan sejak awal melalui berbagai instrumen. Mulai dari pengukuran tinggi badan, lingkar pinggang, status gizi, kesegaran jasmani, kesehatan gigi, hingga kondisi psikologis dan potensi talenta.
“Banyak anak yang stunting, kurang gizi, dan itu harus menjadi ukuran keberhasilan. Ada perubahan fisik, ada perubahan mental, itu bagian dari pendidikan karakter,” jelasnya.
Selain fisik, pemetaan psikologis dan talenta dilakukan melalui berbagai metode, termasuk DNA talent mapping, bantuan AI, dan asesmen langsung oleh psikolog. Dari pemetaan itu, ditemukan persoalan dominan berupa rendahnya kepercayaan diri dan kemampuan mengekspresikan diri.
“Self confidence mereka memang rendah dan itu wajar. Lingkungan sosialnya seperti itu. Tapi setelah disentuh sedikit demi sedikit, mereka mulai berani bercerita, tidak takut, tidak tertekan,” ungkapnya.
Dampak Positif Mulai Terlihat
Meski program ini masih berjalan beberapa bulan dan hasil akademik belum bisa dinilai secara menyeluruh, Prof. Nuh menilai dampak karakter dan sosialnya sudah mulai terlihat.
“Ada tanggung jawab sosial yang luar biasa. Sudah ada yang antre, ada yang indeks,” ujarnya.
Bahkan, dari hasil pemetaan tersebut, sejumlah lembaga sudah mulai merekrut anak-anak Sekolah Rakyat untuk dibina lebih lanjut.
“Sudah ada 30-an anak yang diambil oleh lembaga-lembaga dan biayai sampai lulus dan seterusnya,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga membuka jalur internasional. Anak-anak lulusan SMA Sekolah Rakyat akan disekolahkan ke Tianjin University, China, melalui kerja sama yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman.






