Berita

Saksi Ungkap Detik-Detik Histeris Penemuan 3 Sekeluarga Tewas di Tanjung Priok

Advertisement

Jakarta – Penemuan tragis tiga orang dalam satu keluarga yang tewas di sebuah rumah di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyisakan cerita pilu. Seorang saksi mata, yang juga tetangga korban, menceritakan momen menegangkan saat jasad para korban pertama kali ditemukan.

Kronologi Penemuan Jasad

Saksi, Aryuni Wulan Febri (51), mengungkapkan bahwa ketiga korban ditemukan di ruangan yang berbeda di dalam rumah kontrakan tersebut. Korban tewas adalah Siti Solihah (50), anak pertamanya Afiah Al Adilah Jamaludin (28), dan anak keempat Adnan Al Abrar Jamaludin (14). Sementara itu, anak ketiga korban, Abdullah Syauqi Jamaludin (23), ditemukan selamat dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Wulan menuturkan, dua jenazah ditemukan di kamar tidur masing-masing, sementara satu jenazah lainnya ditemukan tergeletak di ruang tamu. “Di kamar, kamar tidurnya masing-masing. Ibunya di kamar pertama, kakaknya yang perempuan di kamar kedua. Kalau adiknya yang kecil itu di ruang tamu, udah tergeletak semua,” ujar Wulan saat ditemui di kediamannya yang bersebelahan dengan rumah korban di Warakas, Jakarta Utara, Sabtu (3/1/2026).

Teriakan Histeris dan Permintaan Tolong

Wulan mengaku tiba di rumah tak lama setelah anak kedua korban, Khadafi, pulang bekerja. Ia mendengar teriakan histeris dari Khadafi yang menemukan ibu dan kedua saudaranya telah meninggal dunia. Khadafi kemudian meminta tolong Wulan untuk masuk ke dalam rumah.

“Nah, itu cuma saya lihat, cuma nggak menyapa, memang saya lihat aja gitu , oh masnya sebelah gitu . Pas sudah masuk, nggak lama sekitar 5 menit itu masnya teriak-teriak gitu . Saya kedengeran kan kirain saya mungkin berantem gitu ,” cerita Wulan.

Saat ditanya oleh Wulan, Khadafi berteriak, “Minta tolong, Ibu, minta tolong dong, tolong, Ibu saya keracunan”. Wulan sempat mengira ada perkelahian sebelum menyadari situasi yang sebenarnya.

Kondisi Korban dan Kejanggalan

Wulan sempat melihat kondisi para korban dari dalam rumah. Ia mengaku melihat mulut korban sudah berbusa, namun tidak memperhatikan detail kondisi tubuh lainnya karena fokus pada aduan keracunan. “Saya nggak fokus ke situ. Karena fokus saya, karena kan aduannya ibunya keracunan. Jadi saya lihat kondisi ibunya aja . Nggak tahunya sudah berbusa, jadi saya nggak berani gitu . Nggak berani pegang atau masih hidup apa nggak, saya nggak berani kan. Harus keluar, saya panggil Pak RT dulu biar tahu kan,” jelasnya.

Advertisement

Rumah kontrakan tersebut baru ditempati oleh keluarga korban sekitar lima bulan. Pihak kepolisian membenarkan bahwa jasad ketiganya ditemukan oleh salah satu anak korban saat pulang kerja. “Keterangan awal ya, keterangan awal dari anaknya yang pulang kerja itu, buka pintu, kemudian mendapati keluarganya dalam kondisi apa… ya tiduran tapi mengeluarkan busa,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Onkoseno Grandiarso kepada wartawan, Jumat (2/1).

Anak Ketiga Selamat dalam Kondisi Syok

Dalam kejadian ini, anak ketiga korban, Abdullah Syauqi Jamaludin, ditemukan dalam kondisi selamat namun tampak syok. Wulan melihat Syauqi keluar dari bagian belakang rumah dengan pandangan kosong.

“Iya, berdiri kan gitu . Saya tanya, ‘Ini Ibu kenapa?’, ‘Nggak tahu’ katanya gitu . Kayak gimana ya, kayak pandangannya kosong, kayak bingung gitu -lah. Di belakang. Keluar dari belakang, keluar dari kamar mandi kayaknya sih,” tutur Wulan.

Saat tim medis datang, Syauqi yang sebelumnya duduk terdiam, terlihat melepuh dan kemudian pingsan. Sementara itu, Khadafi terus berteriak histeris dan mengungkapkan keinginannya untuk bunuh diri karena merasa tidak punya siapa-siapa lagi.

Kondisi rumah korban dilaporkan tidak berantakan. Wulan juga tidak mencium bau menyengat dari dalam rumah, namun temuan mulut berbusa pada korban menjadi petunjuk awal adanya keracunan.

“Ya udah akhirnya saya keluar, telepon Pak RT gitu . Pak RT nggak lama, lima menit, datang, baru hubungin ambulans sama kepolisian,” imbuhnya.

Advertisement