Caracas – Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Caracas, Y.M. Fikry Cassidy, memberikan keterangan mengenai kondisi warga negara Indonesia (WNI) dan situasi umum di Venezuela pasca serangan Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Ia memastikan seluruh WNI dalam keadaan aman dan situasi di Venezuela mulai menunjukkan perbaikan.
Kondisi WNI dan Kesiapan KBRI
Fikry Cassidy menyatakan bahwa seluruh WNI yang berada di Venezuela saat ini dalam kondisi aman. Komunikasi antara KBRI dengan para WNI terus berjalan lancar melalui jaringan yang masih berfungsi normal. “Kondisi WNI, aset KBRI semua dalam keadaan aman saat ini. KBRI terus berkomunikasi dengan WNI melalui jaringan komunikasi yang masih berfungsi normal saat ini,” kata Fikry saat dihubungi detikcom, Senin (5/1/2026).
Selain itu, KBRI Caracas telah menyiapkan rencana cadangan (contingency plan) untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi pascapenangkapan Presiden Maduro. Sosialisasi rencana tersebut telah diberikan kepada para WNI, termasuk langkah-langkah yang perlu diambil jika skenario tertentu terjadi. “KBRI sudah melakukan sosialisasi contigency plan berdasarkan skenario yang mungkin terjadi dan telah memberikan advice langkah-langkah yang perlu dilakukan para WNI apabila skenario tersebut terjadi,” imbuhnya.
Situasi Umum di Venezuela
Fikry Cassidy menggambarkan situasi di Kota Caracas pada hari Sabtu (3/1) waktu setempat, sehari setelah serangan AS, sempat lebih sepi dari biasanya. Banyak pusat perbelanjaan, pompa bensin, supermarket, dan transportasi publik yang tutup. Namun, beberapa swalayan yang buka 24 jam tetap beroperasi. Ia juga mencatat adanya daerah yang mengalami pemadaman listrik dan air. “Per hari Sabtu pascapenyerangan AS, situasi kota Caracas lebih sepi dari biasanya. Pusat perbelanjaan, pompa-pompa bensin, supermarket dan transportasi publik tutup. Beberapa swalayan yang buka 24 jam tetap buka. Ada daerah yang mengalami padam listrik dan air. Secara umum masyarakat di Caracas tinggal di rumah mereka masing-masing,” ujar dia.
Situasi berangsur membaik pada hari Minggu (4/1). Fikry melaporkan bahwa supermarket mulai beroperasi kembali dengan ketersediaan bahan makanan yang cukup, tanpa adanya panic buying. Transportasi publik juga mulai berfungsi, dan lebih banyak masyarakat yang keluar rumah. Pemulihan pasokan listrik dan air juga mulai terjadi, meskipun belum sepenuhnya merata. Pemerintah setempat telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat kembali beraktivitas normal. “Situasi per hari Minggu kemarin semakin kondusif, supermarket sudah mulai beroperasi, barang dan bahan makanan cukup tersedia, tidak ada panic buying, transportasi publik mulai berfungsi dan masyarakat semakin banyak yang keluar rumahnya. Daerah yang mati listrik dan air sudah mulai pulih walaupun belum semuanya. Pemerintah setempat menghimbau masyarakat untuk kembali beraktivitas normal,” jelas Fikry.
Latar Belakang Operasi AS
Serangan besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan berbulan-bulan yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Operasi ini menuai kecaman dari berbagai pemimpin internasional.
Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari setelah diawali serangan oleh pasukan AS. AS menuding Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah dan menuduhnya mendukung kartel narkoba yang bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat narkoba ilegal. Setelah penangkapan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS. Sejak September 2025, pasukan AS dilaporkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela.
Para ahli hukum menilai aksi AS tersebut berpotensi melanggar hukum domestik AS maupun hukum internasional.






