Berita

Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menahun, Warga Keluhkan Bau Busuk Menyeruak

Advertisement

Jakarta – Permasalahan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kembali dikeluhkan warga. Tumpukan sampah tersebut menimbulkan bau busuk yang menyengat hingga ke permukiman warga, sebuah kondisi yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Salah seorang warga RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Roni, menyatakan bahwa persoalan ini bukanlah hal baru. “Wah sudah lama sekali. Tahunan, bukan bulan. Kalau sudah dibersihkan ya tidak bau. Tapi kalau numpuk lagi, ya bau lagi,” ungkap Roni, dilansir Antara, Kamis (8/1/2026).

Menurut Roni, bau menyengat dari gunungan sampah ini biasanya semakin terasa ketika sampah sedang dibongkar atau saat musim hujan. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, tumpukan sampah di kawasan pasar induk tersebut terlihat semakin menggunung, terutama ketika proses pengangkutan sampah mengalami hambatan.

“Asli bau. Sampai ke dalam-dalam rumah. Kadang-kadang sampai bilang, ‘duh, ini bau sampahnya sampai begini’,” keluhnya. Sumber bau dominan berasal dari sampah sayuran busuk yang merupakan hasil aktivitas jual beli di pasar. Ia menekankan bahwa volume sampah di pasar induk ini sangat besar dan berbeda dengan sampah rumah tangga.

Roni berharap agar pengelolaan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat ditangani secara lebih serius. Ia menginginkan adanya solusi dari pengelola pasar bersama instansi terkait agar permasalahan sampah yang menumpuk dan menimbulkan bau menyengat tidak terus berulang. “Harapan warga ya supaya bersih. Walaupun ada sampah, cepat diangkat, jadi dampaknya nggak ke warga. Kalau pun bau, jangan terlalu sampai masuk rumah,” harapnya.

Advertisement

Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Syahrul (50). Ia menyebutkan bahwa persoalan tumpukan sampah di pasar ini telah meresahkan warga sekitar selama kurang lebih satu bulan terakhir, meskipun ia juga mengakui bahwa masalah ini sudah bertahun-tahun terjadi.

Syahrul mengungkapkan bahwa warga enggan untuk menyampaikan protes secara langsung kepada pengelola Pasar Induk Kramat Jati maupun Dinas Lingkungan Hidup. “Tidak ada yang berani ngomong gitu aja. Tidak ada yang berani demo, tidak ada yang berani cuma hanya marah sendiri-sendiri aja ngomong begini,” ujarnya.

Ia mengeluhkan tumpukan sampah yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar enam meter. Kondisi ini menyebabkan lalat kerap berdatangan ke rumah warga, terutama saat musim buah. “Sudah lama, sudah bukan lama lagi, sudah tahunan seperti ini, tapi hampir ada sebulan terakhir lah yang tinggi,” kata Syahrul.

Advertisement