Aktris Aurelie Moeremans baru saja meluncurkan buku digital berjudul Broken Strings, yang berisi memoar tentang pengalamannya menjadi korban grooming di usia remaja. Pengalaman pahit ini sempat menjadi sorotan publik ketika ia mengklarifikasi status pernikahannya, menegaskan bahwa ia hanya menikah dengan Tyler Bigenho pada tahun 2024.
Kisah grooming yang dialami Aurelie bermula saat usianya menginjak 15 tahun. Melalui buku digital Broken Strings, bintang film Story of Dinda: Second Chance of Happiness ini berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.
“Proses menulisnya sebenarnya relatif cepat. Saat aku mulai menulis, semuanya mengalir begitu saja seperti menulis diary. Ceritanya sudah lama ada di kepalaku, hanya butuh keberanian untuk akhirnya dituangkan,” ujar Aurelie Moeremans kepada detikcom melalui pesan singkat pada Senin (12/1/2026).
Tinggal di Amerika Serikat bersama suaminya, Tyler Bigenho, Aurelie mengakui bahwa menyelesaikan buku tersebut bukanlah perkara mudah. Ia harus kembali membuka luka lama yang meninggalkan trauma mendalam.
“Iya, tentu saja (nggak mudah). Kendala terbesarnya adalah harus membuka kembali luka lama yang selama ini aku pendam. Mengingat detail-detail itu tidak mudah dan cukup menyakitkan, tapi justru proses itu menjadi bagian dari penyembuhan,” tuturnya.
Perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya itu menambahkan, ada kalanya ia merasa ingin menyerah karena beban emosional yang dirasakannya. Namun, tekadnya untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan selalu menguatkannya.
“Ada momen di mana aku ingin berhenti karena terlalu berat. Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal kenapa aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan,” jelas Aurelie Moeremans.
Awalnya, Aurelie tidak berniat menjadikan tulisannya sebagai buku. Ia menjadikannya sebagai sarana penyembuhan diri. Namun, setelah suaminya membaca, Tyler meyakinkan Aurelie bahwa cerita tersebut terlalu penting untuk disimpan sendiri dan berpotensi membantu banyak perempuan lain yang mengalami nasib serupa.
“Awalnya aku sama sekali tidak berniat menjadikannya buku. Aku menulis untuk diriku sendiri, sebagai cara untuk healing, tapi setelah suamiku membaca, dia meyakinkanku bahwa cerita ini terlalu penting untuk disimpan sendiri dan bisa membantu banyak orang,” ungkap Aurelie Moeremans.






