Kabupaten Pandeglang menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan pangan lokal. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) setempat melaporkan sedikitnya 970 hektare lahan sawah berpotensi mengalami gagal panen akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah.
Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi
Banjir yang merendam ratusan hektare sawah ini disebabkan oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Pandeglang, Nuridawati, menjelaskan bahwa curah hujan ekstrem memicu luapan air di berbagai area pertanian.
“Intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan luapan air di sejumlah wilayah pertanian,” ujar Nuridawati kepada wartawan pada Selasa (6/1/2025).
Lahan sawah yang terdampak banjir tersebar di delapan kecamatan, meliputi Kecamatan Patia, Panimbang, Cisata, Saketi, Carita, Pagelaran, Cikeusik, dan Picung. Nuridawati merinci, seluruh lahan yang terendam merupakan area garapan para petani.
Potensi Gagal Panen dan Langkah Antisipasi
Masa tanam padi umumnya berkisar antara 15 hingga 30 hari setelah tanam (HST). Dengan kondisi terendam banjir, potensi gagal panen atau puso semakin besar.
“Total sementara lahan sawah terdampak sekitar 970 hektare, dan seluruhnya merupakan lahan garapan petani,” imbuhnya.
DPKP Pandeglang masih menunggu laporan resmi dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Banten. Hasil pendataan ini akan menjadi dasar untuk menetapkan status kerusakan tanaman.
Jika gagal panen dipastikan terjadi, DPKP Pandeglang akan segera mengajukan permohonan bantuan cadangan benih daerah (CBD) ke Pemerintah Provinsi Banten.
“Jika nanti sudah ada laporan POPT dan dinyatakan puso, kami akan segera mengusulkan bantuan ke Provinsi Banten berupa cadangan benih daerah,” tegas Nuridawati.
Meskipun demikian, Nuridawati memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai wilayah yang telah mengalami gagal panen akibat bencana hidrometeorologi tersebut. Pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan di lapangan.
“Belum ada laporan resmi gagal panen. Ini masih potensi, dan akan kami evaluasi setelah air benar-benar surut,” tutupnya.






