Berita

Google Buka Suara soal Investasi di Gojek, Kejagung Minta Tunggu Sidang

Advertisement

Jakarta – Google Indonesia memberikan klarifikasi terkait investasinya di Gojek, menyusul dakwaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) oleh Kemendikbudristek yang menjerat mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. Kejaksaan Agung (Kejagung) meminta Google untuk menunggu proses persidangan guna mengungkap fakta yang sebenarnya.

Google menegaskan bahwa investasinya di Gojek tidak memiliki kaitan dengan kasus yang didakwakan jaksa. “Ya kan ada kegiatan. Memang Google ada peristiwa sebelum, dan ada peristiwa sesudah gitu,” ujar Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna di gedung Kejagung, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). Ia menambahkan, “Ya nantilah, nanti di pengadilan kan akan terungkap seperti apa.”

Pernyataan Google

Google menyatakan bahwa investasinya di Gojek telah dilakukan jauh sebelum Nadiem Makarim menjabat sebagai Mendikbudristek. Investasi tersebut dilakukan bersama perusahaan global lainnya pada periode antara tahun 2017 hingga 2021, dengan mayoritas investasi Google terjadi sebelum Nadiem Makarim ditunjuk menjadi menteri.

“Google, bersama dengan perusahaan global besar lainnya dan investor institusional, berinvestasi di entitas terkait Gojek antara tahun 2017 dan 2021, di mana sebagian besar investasi Google dilakukan jauh sebelum penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan,” demikian keterangan Google Indonesia yang diterima pada Minggu (11/1).

Perusahaan teknologi raksasa itu juga menekankan bahwa investasi pada entitas terkait Gojek tidak berhubungan dengan upaya jangka panjang mereka dalam meningkatkan lanskap pendidikan di Indonesia, maupun kerja sama dengan Kementerian Pendidikan terkait produk dan layanan mereka.

Lebih lanjut, Google Indonesia membantah pernah menjanjikan atau memberikan imbalan kepada pejabat pemerintah agar menggunakan produk Google. Menurut mereka, penggunaan produk Google oleh pejabat merupakan keputusan independen.

“Kami tetap berkomitmen untuk mendukung transformasi digital Indonesia dengan menjunjung tinggi standar transparansi dan integritas tertinggi,” tegas Google Indonesia.

Respons soal Chromebook

Terkait dakwaan yang menyebutkan siswa dan guru di daerah 3T tidak dapat menggunakan laptop Chromebook untuk belajar mengajar karena ketergantungan pada koneksi internet, Google memberikan penjelasan.

Google mengklaim Chromebook dirancang untuk memenuhi realitas ruang kelas, termasuk di daerah terpencil, dan tetap dapat digunakan secara offline.

“Meski dioptimalkan untuk penggunaan berbasis cloud, Chromebook memiliki kemampuan untuk digunakan secara offline. Siswa tetap dapat membuat dokumen, mengelola file, serta menggunakan aplikasi yang mendukung mode offline bahkan tanpa koneksi internet sekalipun, sehingga memastikan proses belajar tidak pernah terhenti,” jelas Google Indonesia.

Advertisement

Google juga menyatakan bahwa Chromebook memenuhi persyaratan dalam peraturan Kementerian serta panduan pengadaan lokal (DAK Fisik) dari Kementerian Pendidikan, yang mencakup solusi digital holistik termasuk infrastruktur pendukung konektivitas.

Praktik serupa, menurut Google, telah terbukti berhasil di daerah terpencil di berbagai negara, seperti Brasil dan Jepang.

Peran Google dalam Pengadaan

Google Indonesia menegaskan bahwa mereka tidak memproduksi atau menjual Chromebook secara langsung kepada pelanggan akhir. Peran mereka terbatas pada pengembangan dan pemberian lisensi sistem operasi, sementara penentuan harga dan proses pengadaan dikelola sepenuhnya oleh produsen peralatan asli (Original Equipment Manufacturers/OEM) yang independen dan mitra lokal.

Hal ini, menurut Google, memastikan ekosistem Kementerian Pendidikan menjaga kendali penuh dan transparansi atas pengadaan perangkat keras yang kompetitif dari pemasok lokal.

“Sementara para produsen peralatan asli (OEM) independen dan mitra lokal mengelola pengadaan perangkat keras untuk memastikan proses yang kompetitif, Google menyediakan lisensi Chrome Education Upgrade (CEU)–yang sebelumnya dikenal sebagai Chrome Device Management,” terang Google Indonesia.

CEU dijelaskan sebagai sistem pengelolaan dan infrastruktur keamanan penting yang berfungsi melindungi aset publik. Sistem ini memberikan kendali kepada Kementerian dan sekolah untuk mengatur perangkat, menyaring konten negatif, hingga mengunci perangkat yang hilang, demi memastikan investasi pemerintah aman dan bermanfaat.

Kontribusi Pendidikan Jangka Panjang

Google Indonesia mengklaim telah berkontribusi dalam bidang pendidikan selama beberapa dekade, jauh sebelum kepemimpinan saat ini atau keputusan pembelian tertentu.

Kontribusi tersebut meliputi pelatihan keterampilan digital untuk pengusaha UMKM, membantu pencari kerja dan pengembang meningkatkan keahlian, dan lain-lain.

“Dalam beberapa tahun terakhir, melalui kemitraan dengan Kementerian Pendidikan dan dinas-dinas pendidikan daerah, kami telah melatih lebih dari 290.000 guru mengenai AI generatif (Gemini Academy) di berbagai provinsi di Indonesia. Lebih dari 58 ribu guru telah lulus program internasional baru, Gemini Certified Educator–jumlah ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara lain mana pun di dunia,” pungkas Google Indonesia.

Advertisement