Manchester United terus berupaya mencari sosok manajer tetap baru setelah memecat Ruben Amorim. Pencarian ini menandai upaya ketujuh klub untuk menemukan juru taktik permanen sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Selama lebih dari satu dekade, enam manajer telah memimpin tim, namun tidak ada yang mampu mengembalikan kejayaan klub secara konsisten.
Perjalanan Penuh Liku Sejak Era Ferguson
Ole Gunnar Solskjaer tercatat sebagai manajer terlama dalam periode ini, memimpin tim selama kurang dari tiga tahun dengan total 168 pertandingan. Saat ini, posisi pelatih diisi sementara oleh Darren Fletcher, yang sebelumnya menangani tim U-18, sembari klub menyeleksi kandidat lain untuk peran caretaker, termasuk Michael Carrick atau Solskjaer sendiri. Klub juga tengah menjajaki calon manajer tetap yang diharapkan mulai bekerja pada musim panas mendatang.
Namun, dengan rekam jejak yang penuh tantangan selama 13 tahun terakhir dan tren penurunan performa klub, muncul pertanyaan krusial: masihkah Manchester United menjadi destinasi menarik bagi manajer-manajer papan atas?
Faktor Finansial dan Politik Menjadi Kendala
Kesulitan Manchester United untuk menembus zona Eropa semakin memperparah tantangan dalam meracik tim berkualitas. Faktor finansial yang berpengaruh, ditambah dengan kompleksitas politik internal klub, menjadi pertimbangan penting bagi para calon pelatih.
Micah Richards, mantan pemain Manchester City yang kini berprofesi sebagai komentator, mengungkapkan pandangannya. “Saya masih merasa mereka (manajer top) akan mau bekerja di sana. Sebagai manajer, Anda akan selalu berpikir bisa membalikkan keadaan. Saya rasa pertanyaan kuncinya adalah: apakah saya punya kendali penuh?” ujar Richards.
Ia menambahkan, “Apakah saya jadi pelatih, atau jadi manajer? Apakah saya bisa memilih pemain yang saya inginkan? Apakah ada orang-orang di atas yang mencampuri keinginan saya di lapangan? Kalau punya kendali penuh, 100% mau.”
Pentingnya Kendali Penuh Manajer dalam Perekrutan
Alan Shearer, penyerang legendaris Inggris dan top skor sepanjang masa Premier League, sepakat dengan Richards. Ia menekankan betapa vitalnya peran manajer atau kepala pelatih dalam menentukan keputusan perekrutan pemain.
“Kalau Anda melihat tiga tim teratas di liga saat ini, Arsenal, City, dan Villa, semuanya dikelola dengan baik. Semuanya sangat dipengaruhi oleh pelatih kepala atau manajernya,” tutur Shearer.
Shearer memberikan contoh konkret. “Tidak mungkin ada pemain yang datang ke City tanpa persetujuan Pep Guardiola. Tidak mungkin ada pemain yang datang ke Villa tanpa persetujuan Emery, dan saya akan mengatakan hal yang sama dengan Arsenal. Kalau Anda melihat ke ketiga klub itu, saya bisa salah, tetapi apakah kebetulan bahwa para manajer ini punya pengaruh besar dalam menentukan siapa yang akan bergabung?”
Pernyataan ini menyoroti bahwa bagi manajer top, otonomi dalam membangun skuad sesuai visi mereka adalah faktor penentu utama sebelum menerima tawaran melatih klub sebesar Manchester United.






